CEDERA PADA OLAHRAGA BULUTANGKIS

Bulutangkis merupakan olahraga popular di Indonesia. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa bulutangkis merupakan olahraga yang memiliki resiko cedera cukup tinggi. Cedera merupakan resiko yang dapat di alami pemain bulutangkis. Salah satu faktor yang dapat menyebabkan cedera pada atlet yaitu penguasaan teknik bermain bulutangkis yang kurang baik. Bulutangkis merupakan olahraga non-body contact akan tetapi resiko cedera pada atlet bulutangkis cukup tinggi, oleh sebab itu altet yang berkeinginan tinggi untuk menjadi pemain profesional sangat memperhatikan teknik yang mereka kuasai, sehingga faktor resiko cedera pada saat bertanding maupun berlatih rendah.

  • Cedera Ekstremitas Atas

Cedera ekstremitas atas atau cedera tubuh bagian atas paling banyak adalah dislokasi sebesar 58,7%, memar (4,6%), karena luka, sprain, strain. Faktor kemungkinan penyebab terjadinya cedera pada tubuh bagian atas karena kurangnya pemanasan.

            Dislokasi adalah terlepasnya sendi dari tempat yang seharusnya. Dislokasi yang sering terjadi pada atlet bulutangkis yaitu pada bagian sendi bahu, ankle (pergelangan kaki), lutut, dan panggul. Faktor yang menyebabkan resiko terjadinya dislokasi adalah ligamen yang kendor karena pernah memiliki riwayat cedera, kekuatan otot yang menurun atau karena faktor eksternal yang melebihi ketahanan alamiah jaringan dalam tubuh (Kartono mohammad, 2005: 31). Pada cedera dislokasi ligamen, tendon, syaraf, dan pembuluh darah dapat terkena semuanya. Dislokasi harus selalu diobati sebagai fraktur; sendi yang mengalami cedera harus di mobilisasi dan fiksasi. Penanganan pada cedera dislokasi dapat dilakukan dengan melakukan reduksi ringan dengan cara menarik persendian yang bersangkutan pada sumbu memanjang, imobilisasi dengan spalk pada jari-jari, dibawa ke rumah sakit apa bila perlu adanya resistensi. Cedera ekstemitas atas atau cedera yang terjadi pada bagian atas terbanyak setelah dislokasi yaitu strain. Strain adalah cedera karena terjadinya robekan pada otot atau tendon. Akibat cedera strain maka akan timbul rasa nyeri pada otot dan ini dapat berlangsung lama. Pertolongan pertama yang diberikan pada penderitanya adalah dengan latihan ringan saja. Selain itu harus benar-benar istirahat diantara hari-hari latihan dan harus melakukan pemanasan yang lebih lama serta menggunakan badminton equipment yang baik dan benar (Sadoso, 1993: 266).

Cedera ekstremitas atas terbanyak setelah strain adalah memar. Memar adalah cedera yang disebabkan karena terjadinya benturan pada bagian tubuh yang lunak oleh benda yang keras. Penanganan yang bisa diberikan pada cedera memar yaitu melakukan kompres es pada bagian tersebut, sedangkan untuk luka dan lecet bisa diobati dengan obat luar.

Pada atlet bulutangkis cedera ekstermitas atas contohnya adalah cedera pada sendi bahu, sering terjadi luksasio / subluksasio karena sifatnya globoidea kepala sendi yang masuk ke dalam mangkok sendi kurang dari separuhya. Cedera pada sendi bahu ini sering terjadi karena pemakaian sendi bahu yang berlebihan atau body contact sport, biasanya dapat terjadi ketika latihan drill menggunakan raket berat atau ketika latihan dengan menggunakan beban yang berlebihan, karena pada dasarnya gerakan teknik bulutangkis banyak menggunakan sendi bahu seperti pukulan smash, lob hingga dropshot sehingga kita harus memperhatikan bahwa sendi bahu sangat lemah karena sifatnya globoidea dimana hanya diperkuat oleh ligamentum dan otot-otot bahu saja.

  • Cedera Ekstremitas Bawah

Cedera ekstremitas bawah paling banyak karena sprain pergelangan kaki sebesar 27,6%. Sprain merupakan cidera pada ligamentum, yang menghubungkan tulang dengan tulang. Sprain dapat terjadi apabila ligamen teregang melampaui gerakan yang normal. Menurut Morgan (1993: 56) sprain merupakan regangan atau robekan dari sendi dan ligamen. Sprain pada bagian kaki merupakan cedera yang sering dialami pemain bulutangkis yaitu (26%) dari keseluruhan cedera yang dialami pemain bulutangkis. Sprain dibedakan menjadi empat tingkatan yaitu:

  1. Tingkat 1 (ringan), pada tingkat ini hanya terjadi robekan pada serat ligamen, tetapi tidak ada gangguan fungsi.
  2.  Tingkat 2 (sedang), terjadi robekan lebih luas, tetapi minimal 50% masih baik, pada tingkat ini sudah terjadi gangguan fungsi, tindakan proteksi harus segera dilakukan untuk memungkinkan cedera dapat disembuhkan.
  3. Tingkat 3 (berat), terjadi robekantotal atau lepasnya ligamen dari tempat asalnya, dan fungsinya terganggu secara total, maka sangat penting untuk segera menempatkan kedua ujung secara berdekatan.
  4. Tingkat 4 (sprain fracture), pada kasus ini terjadi akibat ligament terlepas dari tempat letaknya pada tulang dengan diikuti retaknya tulang. Pertolongan pertama yang dapat diberikan  pada penderita sprain yaitu dengan melakukan RICE.

Cedera lain yang juga sering di alami atlet bulutangkis di ekstrimitas bawah adalah dislokasi (lutut, ankle). Dislokasi adalah terlepasnya sendi dari tempat yang seharusnya. Dislokasi yang sering terjadi pada atlet bulutangkis adalah dislokasi bahu, ankle (pergelangan kaki),  lutut dan panggul. Faktor yang  meningkatkan resiko dislokasi adalah ligamen-ligamennya yang kendor akibat pernah mengalami cedera, kekuatan otot yang menurun ataupun karena faktor eksternal yang berupa tekanan energi dari luar yang melebihi ketahanan alamiah jaringan dalam tubuh (Kartono  Mohammad, 2001: 31).

Ketiga adalah cedera memar pada bagian lutut. Memar adalah cedera yang di akibatkan oleh benturan-benturan benda keras pada jaringan tubuh yang lunak. Pada cedera memar, jaringan dibawah permukaan kulit rusak, dan pembuluh darah kecil pecah, sehingga darah dan cairan seluler merembes ke jaringan  sekitarnya (Morgan, 1993: 63). Sedangkan  Sadoso (1993: 268), berpendapat bahwa memar merupakan cedera pada otot atau tulang, sebagai akibat benturan.

Cedera ekstremitas bawah  berikutnya yaitu strain. Apabila terjadi cedera strain ringan maka yang terjadi adalah otot tidak mengalami robekan, hanya terdapat inflamasi ringan, meskipun tidak ada penurunan kekuatan otot tetapi  pada kondisi tertentu cukup mengganggu atlet. Apabila terjadi strain tingkat sedang maka yang terjadi pada otot yaitu kerusakan pada otot sehingga dapat mengurangi kekuatan otot dan jika strain tingkat berat maka sudah terjadi robekan pada otot, perlu dilakukan tindakan bedah (repair sampai fisioterapi dan rehabilitasi).

Pertolongan yang dapat dilakukan pada cedera sprain dan strain yaitu dengan  metode RICE, mengistirahatkan bagian yang mengalami cedera, mengkompres  bagian yang mengalami cedera dengan  menggunakan es, pemberian tekanan atau kompresi pada bagian yang mengalami cedera, elevation atau meninggikan bagian  yang mengalami cedera melebihi posisi  jantung. Jika nyeri dan bengkak berkurang  selama 48 jam setelah cedera, gerakan persendian yang cedera ke segala arah. Hindari tekanan pada bagian cedera sampai nyeri hilang (biasanya 7-10 hari untuk cedera ringan dan 3-5 minggu untuk cedera berat) gunakan tongkat penopang apabila dibutuhkan

Menurut Wibowo (1995: 16), cedera derajat I biasanya sembuh dengan menggunakan metode RICE. Tetapi dengan latihan dapat membantu mengembalikan kekuatan dan fleksibilitas. Cedera derajat II pada dasanya penyembuhan yang dilakukan sama akan tetapi ditambah dengan imobilisasi pada daerah yang mengalami cedera. Kunci dari penyembuhan cedera adalah evaluasi dini  dengan professional medis.

Berdasarkan cedera yang dialami oleh atlet bulutangkis, cedera yang paling banyak dialami oleh atlet adalah cedera ekstremitas bawah. Ini disebabkan karena bulutangkis merupakan olahraga non-body contact akan tetapi resiko cedera pada atlet bulutangkis cukup tinggi. Bulutangkis banyak mengandalkan topangan gerakan ekstremitas bawah sehingga cedera paling sering terjadi adalah cedera ekstremitas bawah. Cedera ekstremitas bawah dapat mengganggu fungsi gerakan footwork seorang pemain, karena ketika pemain mengambil kok, footwork menjadi salah satu aspek yang sangat penting apabila terjadi  cedera maka akan menurunkan kualitas dari pukulan juga. Faktor yang menyebabkan terjadinya cedera ekstermitas bawah, dapat disebabkan oleh keseleo, saat latihan naik turun tangga dan lain-lain.

  • Cedera Batang Tubuh

Cedera batang tubuh terbanyak disebabkan karena kram sebesar 6,9%. Kram merupakan kontraksi otot tertentu yang berlebihan dan terjadi secara mendadak dan tanpa disadari. Kram otot dapat terjadi karena beberapa faktor antara lain:

  1. Otot-otot mengalami kelelahan dan tiba-tiba meregang, maka otot tersebut akan teregang secara penuh.
  2.  Ketidak sempurnaan biomekanik tubuh karena adanya ketidaksejajaran dari bagian kaki bawah atau karena keadaan otot yang terlalu kencang.
  3. Kekurangan elektrolit yang membuat otot-otot tidak bekerja secara maksimal.
  4.  Terbatasnya suplai darah yang tersedia pada otot-otot tersebut sehingga menyebabkan terjadinya kram otot pada saat melakukan latihan dan pertandingan.

Pada dislokasi, ligamen (otot sendi) dan tendon (yang melekatkan otot pada tulang), syaraf dan pembuluh darah dapat mengalami cedera. Penanganan yang dilakukan oleh atlet untuk menangani cedera dislokasi adalah dengan pijat, dan terapi di klinik fisioterapi, untuk cedera memar dengan kompres es pada bagian yang memar, luka/lecet tanpa penanganan khusus hanya diobati dengan obat luar.

Cedera batang tubuh paling banyak disebabkan karena kram sebesar 6,9%. Kram otot menjadi masalah yang seringkali dihadapi oleh para atlet. Kram terjadi secara tiba–tiba, diluar koordinasi kontraksi serat–serat otot. Kram ini bisa dikatakan ringan apabila hanya terjadi pada sebagian serat–serat otot, dan dikatakan kram parah apabila mempengaruhi hampir seluruh bagian serat otot yang terlibat.

Saran yang diberikan untuk mencegah terjadinya cedera sebagai berikut :

  1. Disarankan kepada atlet agar melakukan pemanasan dan pendinginan dengan baik dan benar, meliputi warm-up dan  streching
  2. Pelatih dihimbau untuk mengawasi  dan memberikan contoh latihan atlet asuhannya mulai dari persiapan pemanasan sampai selesai untuk meminimalisir cedera atlet.
  3. Sebaiknya pelatih dapat memberikan latihan yang sesuai dengan usia atlet asuhannya.
  4. Sebagai pelatih yang baik, harus dapat memberkan edukasi kepada atlet dan wali atlet tentang resiko cedera yang sering di alami atlet bulutangkis sehingga altet dan wali atlet dapat menghindari hal-hal yang bisa berdampak terhadap cedera.
  5. Sebaiknya pelatih selalu mengajarkan gerakan dasar dan teknik yang benar terutama jumping smash pada fase landing. Fase landing (mendarat) jarang diajarkan dengan benar oleh pelatih, karena posisi kaki yang tidak benar saat mendarat dapat menyebabkan terjadinya cedera.
  6.  Anjuran untuk menggunakan badminton equipment yang baik untuk atlet yang pernah mengalami cedera (ankle brace, sepatu yan sesuai, raket yang standart sesuai aturan bulutangkis).

Referensi :

Jika anda mengalami cedera seperti diatas segera konsultasikan ke ahli fisioterapi. Universitas Negeri Yogyakarta sekarang sudah memiliki “HEALTH AND SPORT CENTER FIK UNY” dengan layanan yang ada dan didukung dengan layanan yang baik, serta SDM yang ahli dibidangnya tentunya dapat membantu cedera olahraga yang terjadi pada atlit. Info lebih lanjut mengenai health and sport center fik uny dapat dikunjungi pada jam operasional atau bisa menghubungi saya 081556408801 (a.n devy).

Tulisan ini untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Industri Olahraga. #Industriolahraga-Sportindustry

@faidillah_kurniawan https://www.instagram.com/faidillah_kurniawan/

Apa Penyebab Seorang Atlet Bulutangkis Mengalami Rasa Cemas dan Stress Saat Bertanding?

Penampilan seorang atlet adalah hasil dari kecepatan, kekuatan, fleksibilitas, koordinasi, keterampilan dan kemampuan, karena nya jika pikiran seseorang atlet dikuasai pikiran yang menggangu seperti emosi negatif yang berlebihan maka akan mengganggu konsentrasi dan tidak akan maksimal dalam suatu pertandingan. Pada umumnya atlet akan mengalami gejala-gejala rasa cemas dan stress dalam pertandingan misalnya rasa cemas, rasa khawatir, ketegangan, kebinggungan, kurang atau hilangnya konsentrasi dan kepercayaan diri yang menurun dalam suatu perlombaan. Salah satu faktor yang menyebabkan sering timbulnya kegagalan dalam suatu pertandingan adalah kurangnya pembinaan mental dan mental atlet itu sendiri.

Menjelang pertandingan merupakan saat terberat bagi seorang atlet bulutangkis, karena harus siap menghadapi pertandingan apapun resikonya. Hal ini dapat mempengaruhi mental atlet dalam penampilannya karena dalam menghadapi pertandingan, atlet tidak mungkin menghindari dari pengaruh rasa cemas yang timbul pada dalam dirinya. Sampai pada batas-batas tertentu seorang atlet wajar mengalami kecemasan dalam menghadapi suatu pertandingan, karena kecemasan justru dapat meningkatkan kewaspadaan atllet dalam menghadapi lawan, penonton dalam hal lainnya yang dapat mengakibatkan kecemasan. Seorang atlet dalam bertindak menjadi lebih berhati-hati, dan bersikap waspada untuk mengantisipasi keadaan, akan tetapi apabila seorang pebulutangkis mengalami kecemasan secara berlebihan akan menimbulkan turunnya konsentrasi dan dapat menimbulkan gangguan perasaan yang kurang menyenangkan bagi atlet tersebut sehingga kondisi mental berada dalam keadaan tidak seimbang. Hal ini disebabkan karena fokus perhatian atlet terpecah-pecah pada saat bersamaan sehingga mengalami penurunan dalam penampilannya. Rasa cemas dapat terjadi pada atlet dalam pertandingannya misalnya, kecemasan timbul sebelum pertandingan berlangsung. Atlet sebelum bertanding akan selalu berada dibawah pengaruh kecemasan yang disebabkan oleh lawan, penonton, pengaruh lapangan, sarana prasarana dan sebagainya. Seringkali mereka sudah membayangkan kegagalan dan melebih-lebihkan kemampuan lawan meskipun pertandingan belum dimulai. Kadang-kadang pebulutangkis membayangkan nomor pertandingannya sebagai sesuatu yang sulit dilakukan dan tipis harapan untuk berhasil. Rasa cemas akan ketidakmampuan dirinya menghadapi pertandingan dapat menyebabkan hambatan, sehingga sulit untuk mengembangkan kemampuan yang dimilikinya.

Tulisan ini untuk memenuhi salah satu tugas Industri Olahraga. #Industriolahraga-Sportindustry @faidillah_kurniawan https://www.instagram.com/faidillah_kurniawan/

Bagaimana Pengaturan Asupan Nutrisi Pada Atlet?

Seorang atlet yang mengkonsumsi makanan dengan gizi yang seimbang secara terencana akan berada pada status gizi yang baik dan mampu mempertahankan kondisi fisik yang sangat baik saat latihan maupun saat bertanding. Makanan yang memenuhi keseimbangan gizi memainkan peran penting bagi para atlet yang ingin tampil maksimal dalam pertandingan, sebaliknya makanan yang tidak memenuhi syarat dan gizi tidak seimbang mungkin tidak tampil maksimal. Semua upaya akan mencapai hasil yang lebih baik dengan didukung makan-makanan yang bergizi, terlebih pada atlet gizi makanan mempunyai kebutuhan yang lebih besar dari orang-orang biasa. lni harus diakui dan dipahami oleh para atlet, pelatih, dan keluarga dan lingkungan agar selalu menjaga kesehatan dengan gizi yang baik atau pengaturan makanan yang seimbang. Pengaturan makanan khusus harus dimasukkan ke dalam pelatihan, pertandingan dan pascapertandingan. Menurut Primana, DA (2002: 17-19) tujuan pengaturan makanan pada atlet adalah: memperbaiki dan mempertahankan status gizi agar tidak terjadi kurang gizi atau gizi lebih (kegemukan), membentuk otot dan mencapai tinggi badan optimal, memelihara kondisi tubuh dan menjaga kesegaran jasmani, membiasakan atlet mengatur diri sendiri untuk makan makanan yang seimbang. Pembagian pengaturan makan pada atlet adalah sebagai berikut.

  • Periode Pelatihan

 Prinsip utama pengaturan makanan pada periode ini adalah tersedianya energi yang cukup untuk berlatih dan untuk menghindari pencernaan masih bekerja pada waktu pelatihan sedang berlangsung. Selain memperhatikan kandungan zat gizi dari makanan, pengaturan makanan juga harus memperhatikan pola latihan yang diterapkan Selain sebagai sumber energi, bahan makanan yang dipilih harus juga mengandung berbagai macam vitamin dan mineral, sehingga kebutuhan zat gizi lainnya juga dapat terpenuhi. Seusai latihan, makanan yang dikonsumsi harus mengandung energi yang cukup, terutama makanan yang mengandung karbohidrat, mineral dan air untuk mengganti cadangan energi yang telah dipakai selama latihan. Atlet harus menjaga berat badan yang normal, hindari berat badan berlebih. Atlet juga harus diperkenalkan dengan berbagai macam hidangan yang disediakan.

  • Periode Pertandingan

Makanan untuk atlet diatur agar tidak mengganggu pencernaan sewaktu pertandingan. Selain itu, makanan yang dihidangkan harus mengandung gizi seimbang dan sudah dikenal oleh atlet (atlet sudah biasa mengkonsumsi makanan tersebut). Makanan yang dihidangkan tersebut harus mempunyai nilai yang baik sehingga semboyan eat to win. Psikologis terciptalah Pra Pertandingan:

  • Periode Pra Pertandingan

Kira-kira 3-4 jam sebelum pertandingan, atlet dapat mengkonsumsi makanan lengkap. Makanan sebaiknya mudah dicerna, rendah lemak, rendah serat, dan tidak menyebabkan masalah pada pencernaan atlet (tidak terlalu pedas, dan tidak mengandung bumbu-bumbu tajam serta tidak berlemak). Sedangkan makanan kecil/ minuman (biskuit, teh manis, jus buah, dll) bisa diberikan kira-kira 1-2 jam sebelum pertandingan.

  • Selama Pertandingan

Minum air sebanyak 1-1,5 gelas 1 jam sebelum pertandingan dan saat istirahat (waktu jeda) sangat dianjurkan. Minum air selama pertandingan juga harus dilakukan setiap ada kesempatan, jangan menunggu sampai timbul rasa haus. Air minum dapat ditambah 1 sendok teh gula dan 1/4 sendok teh garam dalam 1 gelas air.

  • Pasca Pertandingan

Segera setelah selesai pertandingan, atlet harus segera minum air ding in (suhu 10-15 Celcius) sebanyak satu gelas. Kemudian dapat dilanjutkan dengan sari buah/air + gula + garam. Kemudian dapat diberikan makanan padat yang mudah dicerna seperti biskuit atau bubur halus dalam porsi kecil.

  • Setelah Rasa Letih Berkurang

Lebih kurang 3-4 jam setelah  pertandingan, atlet dapat diberikan makanan biasa dengan gizi seimbang sesuai dengan kebutuhan.

  • Periode Pemulihan (Recovery)

Periode setelah pertandingan atau periode istirahat aktif, atlet dapat makan makanan biasa untuk mempertahankan dan meningkatkan kondisi fisik. Pada prinsipnya makanan pada periode recovery  sama dengan makanan pada periode pelatihan.

Olahraga aerobik (dengan oksigen) melibatkan kelompok-kelompok otot besar dan dilakukan dengan intensitas yang cukup rendah serta dalam waktu yang cukup lama, sehingga sumber-sumber bahan bakar dapa diubah menjadi ATP dengan menggunakan siklus asam sitrat sebagai jalur metabolisme predominan. Olahraga aerobik dapat dipertahankan dari 15 sampai dengan 20 menit hingga beberapa jam dalam sekali latihan. Aktivitas jangka pendek dan berintensitas tinggi, seperti angkat beban atau lari 100 meter, yang berlangsung dalam beberapa detik dan semata-mata mengandalkan energi yang tersimpan diotot dan pada glikolisis adalah terbentuk olahrga anaerobik (tanpa oksigen).

Untuk lebih lengkapnya mengenai pengaturan gizi pada atlet dapat dibaca melalui buku “Pedoman Gizi Lengkap Keluarga & Olahragawan Edisi Revisi” karya Prof. Dr. Djoko Pekik Irianto, M.Kes., AIFO. Apabila anda tertarik dengan buku tersebut anda dapat melakukan pemesanan buku melalui saya dengan menghubungi kontak ini 081556408801 (a.n devy).

Tulisan ini untuk memenuhi salah satu tugas Industri Olahraga. #Industriolahraga-Sportindustry @faidillah_kurniawan https://www.instagram.com/faidillah_kurniawan/